Widget HTML Atas

Lockdown Berpengaruh Pada Penderita Gangguan Kecemasan

Lockdown Berpengaruh Pada Penderita Gangguan Kecemasan


[Terjemahan]

Ketika locdown dimulai, semuanya terasa surealis. Ancaman dari coronavirus telah terbangun selama berminggu-minggu, dan selain mencuci tangan saya juga menjadi lebih ekstra waspada, saya tidak berpikir wabah ini akan menjadi seburuk ini. Kolega saya dan saya telah mulai terganggu ketika orang mulai panik membeli semua toilet roll, kalian mungkin sudah menonton semuanya di tevelisi.Seakan seperti mimpi, namun ini nyata dan mulai mengganggu syaraf saya yang memang sudah sensitif ini. Meskipun saya memiliki beberapa kondisi kesehatan yang membuat saya sangat rentan terhadap virus, saya tidak pernah merasakan situasi seperti ini sampai-sampai saya juga mulai mengisolasi diri seminggu atau lebih sebelum pemerintah melakukan lockdown secara penuh. Paranoid dan ini berbahaya bagi kesehatan mental. Covid hilang, penyakit mental barupun bisa datang karena trauma yang ia tinggalkan.

Saya ingat bahwa saya sempat melihat teman posting di Facebook bahwa lebih dari 900 orang telah meninggal di Inggris pada hari tersebut. Saya pikir dia keliru jadi saya mencoba memeriksa faktanya, dan sialnya ternyata dia benar. Jumlah itu terus bertambah seiring dengan berjalannya hari.
Sebagai seseorang yang memiliki kerusakan paru, asma, sistem kekebalan yang tidak baik dan masalah kesehatan yang rumit lainnya, ketakutan menetap dan menyergap dengan cepat. Tapi saya adalah salah satu orang yang cukup beruntung karena bisa bekerja dari rumah.
Kekhawatiran baru saya adalah akhir dari lockdown itu sendiri; Ini pasti akan berhenti pada akhirnya. Saya tidak percaya pada pemerintah bahwa mereka akan memprioritaskan kesehatan diatas  ekonomi. Boris Johnson melewatkan enam pertemuan Cobra di Covid-19 dari awal Januari untuk menangani masalah pribadi; rencana respons pandemi pemerintah telah lama ditinggalkan, dan toko PPE di Inggris sangat kurang.

Saya mengamati Headline roll dalam berita dimana tenaga medis professional harus memilih siapa yang akan ditolong dan siapa yang akan dibiarkan meninggal karena ada hanya tidak cukup respirator. Memiliki kerusakan paru dan penyakit langka, saya tahu bahwa jika saya mendapat virus di puncak pandemi, saya mungkin tidak akan memenuhi syarat untuk salah satu dari sedikit respirator yang disediakan dan mungkin akan dibiarkan meninggal begitu saja. Saya depresi dan kecemasan, yang saya sudah hilangkan dengan sejak usia 9 tahun, dan sekarang kembali menelan saya. Saya ketakutan, dan saya tidak pernah ingin meninggalkan gelembung pengaman saya. Ini benar-benar menyakitkan, saya takut . Saya sangat takut.

Beberapa minggu telah berlalu, kecemasan saya telah tumbuh. Pada hari VE saya melihat garis conga Partai penonton pada berita. Dengan locdown kecil yang memudahkan, saya telah melihat gambar dari Durdle Door dan pantai Bournemouth yang pada akhirnya kembali dibanjiri wisatawan. Sementaras saya mengerti betapa sulitnya untuk tetap di dalam ruangan-jauh lebih sayangnya sangat mengesalkan melihat ribuan orang tidak mengambil tindakan serius terhadap pencegahan ini dan berpotensi membalikkan bulan pengorbanan sebelumnya dan mengganggu mental ini lebih jauh lagi.

***

Aku takut tertular penyakit, dan bahkan lebih takut pacarku juga tertular olehnya. Walaupun ia memiliki paru-paru yang sehat, ia masih imun opresi oleh obat yang digunakan untuk mengobati penyakit inflamasi usus, jadi aku tidak ingin dia beresiko terkena dan malah terkesan over protective karenanya.
Dalam satu hal, rasanya seperti kecemasan saya adalah melindungi saya dengan membuat saya ekstra hati-hati, dan aku khawatir bahwa pacarku tidak memiliki penghalang yang sama. Di sisi lain, saya menghargai bahwa kecemasanku ini mungkin lebih menghambatku dibanding membantu disituasi seperti ini. Ini situasi yang membingungkan.

Semakin lama Lockdown ini terjadi maka rasa cemas akan semakin besar. Ini bisa menimbulkan masalah baru dan membuladaknya pasien gangguan kecemasan karena corona. Banyak masalah yang bisa memicu gangguan kecemasan ini seperti logistik yang tidak jelas, PHK, janji-janji politik ampas dari politikus penipu rakyat.

Pada akhirnya kita dihadapkan akan tiga pilhan akhir, "Mati karena corona", "Mati karna ekonomi" atau menerita karena Gangguan Kecemasan dan Depresi.

Situasi benar-benar menjadi sangat sulit.

Ah... semoga covid ini segera berakhir.

Hai Kak, Share AnxietyIndo Ke Yang Lain Ya

Tidak ada komentar untuk "Lockdown Berpengaruh Pada Penderita Gangguan Kecemasan"

Berlangganan via Email