Widget HTML Atas

Motivasi Kekuatan Sebuah Kata-Kata - Sesi Kekuatan Pikiran (Power Of Mind)

Motivasi Kekuatan Sebuah Kata-Kata - Sesi Kekuatan Pikiran (Power Of Mind)

KEKUATAN SEBUAH KATA

TIDAK

"Bila bayi Anda terkena flu pun„ dia dapat mati," ujar dokter hampir tanpa perasaan kepada saya dan istri saya di akhir pertemuan kami. Istri saya menggendong bayi perempuan kami„ Gabriela. Hati kami membeku ketakutan. Cabriela lahir dengan masalah serius di tulang belakangnya, dan pertemuan dengan dokter ini hanyalah awal dari suatu perjalanan panjang menempuh sistem medis ,ratusan konsultasi, lusinan pengobatan, dan tujuh operasi besar dalam waktu tujuh tahun. Saat perjalanan kami masih berlangsung, saya senang untuk menuliskan bahwa, terlepas dari pemeriksaan fisiknya, Cabriela bahagia dan sehat. Dengan mengingat kembali masa-masa melakukan negosiasi yang membingungkan dengan para dokter, perawat, pihak rumah sakit, dan perusahaan asuransi, saya menyadari betapa proses itu membutuhkan semua keterampilan yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun untuk membantu orang lain mendapat jawaban YA dengan topik negosiasi mereka. Saya juga menyadari bahwa,


Photo by Isaiah Rustad on Unsplash

untuk saya pribadi, keterampilan utama yang saya perlukan untuk melindungi anak perempuan dan keluarga saya adalah dengan mengatakan TIDAk.

Hal itu dimulai dengan mengatakan TIDAK atas gaya kornunikasi dokter yang, walaupun sangat peduli„ menciptakan tingkat ketakutan dan kepanikan yang tidak perlu di hati orangtua dan pasien. Hal itu dilanjutkan dengan mengatakan TIDAK atas perilaku para petugas rumah sakit dan para siswa kedokteran yang memasuki ruang perawatan Cabriela dengan gaduh di waktu dini hari dan memperlakukan dia seolah-olah dia adalah objek yang tidak bernyawa. Dalam dunia kerja saya, hal itu berarti mengatakan TIDAK atas lusinan undangan, permohonan, dan permintaan darurat agar memberikan waktu saya, waktu berharga yang saya perlukan untuk berkumpul bersama keluarga atau untuk meneliti masalah medis.

Tetapi,penolakan saya harus menyenangkan., manapun, nyawa putri saya berada di tangan para dokter dan perawat. Mereka sendiri memiliki tingkat stres yang tinggi dalam suatu sistem medis yang tidak berfungsi baik sehingga waktu mereka untuk berhubungan dengan masing-masing pasien sangat terbatas. Istri saya dan saya perlu belajar untuk berhenti sejenak sebelum menjawab, sekadar untuk memastikan bahwa penolakan (TIDAK) kami tidak hanya efektif tetapi juga menghargai lawan bicara kami.

Seperti semua TIDAK yang bagus, TIDAK milik kami ditujukan untuk mencapai YA yang lebih tinggi, dalam kasus ini, YA untuk kesehatan dan kenyamanan putri kami. Intinya, TIDAK kami bukan dimaksudkan menjadi TIDAK yang negatif tetapi positif. Penolakan kami itu berfungsi untuk melindungi putri kami dan menciptakan kemungkinan


hidup yang lebih baik bagi dia dan kami berdua. Tentu saja, kami tidak selalu berhasil, tetapi kami selalu belajar untuk menjadi lebih efektif.

Buku ini adalah tentang keterampilan yang diperlukan untuk menyampaikan TIDAK yang positif di setiap bidang kehidupan kita.

Berdasarkan latar belakang pendidikan, saya adalah antropologisiswa yang mempelajari perilaku dan sifat manusia. Berdasarkan profesi, saya adalah spesialis negosiasi guru, konsultan, dan mediator. Berdasarkan hasrat, saya adalah pencinta kedamaian.

Sejak kecil, sambil menyaksikan pertengkaran di meja makan„ saya bertanyatanya kalau saja ada cara yang lebih baik untuk mengatasi perbedaan kita daripada pertengkaran dan argumen destruktif.

Karena saya menempuh pendidikan cli Eropa, 15 tahun setelah PD II berakhir, dengan kenangan akan perang yang masih segar dan kerugian materi yang jelas terlihat, saya semakin bertanya-tanya.

Saya tumbuh dalam generasi yang hidup di bawah ancaman PD III, walaupun tidak terlalu kelihatan tetapi terus-menerus ada, sesuatu yang membuat keberlangsungan hidup manusia sangat diragukan. Kita punya tempat perlindungan bom nuklir di sekolah, dan percakapan tengah malam dengan teman tentang hal yang ingin kita lakukan dengan hidup kita terkadang berakhir dalam ketidakpastian tentang apakah kita memiliki masa depan atau tidak. Lalu saya percaya, dan bahkan semakin percaya, bahwa pasti ada cara yang lebih baik untuk melindungi masyarakat kita dan diri kita sendiri daripada sekadar saling mengancam dengan perusakan massal.

Dalam rangka menjawab dilema ini, saya menjadi


siswa profesional tentang konflik manusia. Tidak ingin sekadar menjadi seorang pengamat, saya berusaha menerapkan hal yang pernah saya pelajari dengan menjadi seorang negosiator dan mediator. Selama lebih dari tiga dekade, saya bekerja sebagai pihak ketiga yang mencoba mengatasi situasi, mulai dari pemogokan buruh tambang batu bara„ konflik perusahaan, dan perang etnis di Timur Tengah, Eropa, Asia, serta Afrika. Saya juga memiliki peluang untuk mendengarkan dan memberi nasihat ke ribuan orang serta ratusan organisasi dan lembaga pemerintah tentang cara menegosiasikan kesepakatan bahkan di bawah situasi tersulit.

Dalam rangkaian tugas saya, saya pernah menjadi saksi dari kerugian besar-besaran dan kesengsaraan tak berguna yang dapat ditimbulkan oleh pertengkaran destruktif keluarga dan pertemanan yang hancur, pemogokan clan tuntutan hukum yang merugikan, serta organisasi yang gagal. Saya pernah berada di zona perang dan melihat ketakutan yang hebat terdapat dalam hati orang-orang yang tak bersalah. Mungkin„ ironisnya, saya juga pernah melihat situasi serupa yang membuat saya berharap kalau di sana ada Iebih banyak konflik dan perselisihan, situasi ketika pasangan hidup dan anak-anak mengalami tindak kekerasan, karyawan diperlakukan dengan semena-mena oleh bos mereka„ atau seluruh masyarakat hidup dalam ketakutan di bawah pemerintahan diktator totaliter.

Di tempat kerja saya pada Program on Negotiation di Har-vard, saya telah mengembangkan cara terbaik untuk mengatasi perbedaan kita. Dua puluh lima tahun yang lalu, Roger Fisher dan saya menulis buku berjudul Getting to Yes, yang memusatkan perhatian pada cara untuk


mencapai suatu kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Saya kira, buku itu menjadi buku laris karena buku tersebut mengingatkan orang tentang prinsip logis yang telah mereka ketahui tetapi sering lupa diterapkan.

Satu dekade kemudian, saya menulis buku Getbrag Past sebagai jawaban atas pertanyaan terbanyak yang saya terima dari pembaca buku pertama: bagaimana Anda bernegosiasi secara kooperatif ketika pihak lain tidak tertarik? Bagaimana Anda mendapat kesepakatan dengan orang yang sulit dan dalam situasi sulit?

Namun setelah bertahun-tahun, saya menjadi sadar bahwa untuk mendapat YA hanyalah separuh gambar dan merupakan bagian yang lebih mudah. Seperti diutarakan oleh salah seorang direktur perusahaan yang juga merupakan salah satu klien saya„ "Karyawan saya tahu cara menjawab YA, itu bukan masalah; yang sulit bagi mereka adalah menjawab TIDAK." Atau seperti dikatakan oleh perdana menteri Inggris, Tony Blair, "Seni kepemimpinan adalah bukan tentang mengatakan YA, namun tentang mengatakan TIDAK." Malahan, tidak lama setelah Getting to Yes diterbitkan„ sebuah kartun ditampilkan di Boston Globe. Seorang lelaki yang mengenakan jas dan dasi menanyakan buku bagus tentang negosiasi kepada seorang pustakawan. "Buku ini cukup populeri" jawab pustakawan sambil memberikan buku Getting to Yes. "YA bukanlah hal yang saya miliki dalam pikiran saya," jawab lelaki itu.

Sampai saat ini, saya telah mengembangkan asumsi bahwa masalah utama di balik konflik destruktif adalah suatu ketidakmampuan mencapai YA. Orang tidak tahu cara mencapai kesepakatan. Tetapi„ saya telah kehilangan sesuatu yang penting. Bahkan ketika kesepakatan telah dicapai, kesepakatan itu sering tidak stabil atau ti-


dak memuaskan karena masalah yang sebenarnya menclasari telah dihindari atau dianggap selesai, masalah hanya ditunda.

Secara perlahan, saya menyadari bahwa sering kali, masalah utama bukanlah ketidakmampuan untuk mencapai YA tetapi suatu ketidakmampuan mengatakan TID.AK. Sering kali, kita tidak dapat membawa diri kita sendiri untuk mengatakan TIDAK ketika kita ingin dan tahu bahwa kita harus mengatakan TIDAK, atau kita mengatakan TIDA.K tetapi mengatakannya dengan cara yang menghambat kesepakatan dan merusak hubungan yang ada. Kita menyerah pada tuntutan yang tidak tepat, ketidakadilan„ dan bahkan kekerasan atau kita terlibat dalam pertengkaran destruktif yang menyebabkan semua pihak kalah.

Ketika Roger Fisher dan saya menulis buku Getting to Yesi kami menjawab tantangan konflik yang merugikan dan kebutuhan yang semakin meningkat untuk negosiasi yang kooperatif dalam keluarga, di tempat kerja, dan di dunia yang lebih luas. Kebutuhan untuk mencapai YA tetap ada. Tetapi sekarang. kebutuhan yang lebih mendesak bagi orang-orang adalah kemampuan untuk menjawab TIDAK secara positif sehingga mereka dapat mempertahankan sesuatu yang bernilai bagi mereka tanpa merusak hubungan mereka. TIDAK sama pentingnya dengan YA. dan tentu saja merupakan syarat untuk mengatakan YA secara efektif. Anda tidak dapat benar-benar mengatakan YA terhadap permintaan seseorang bila Anda tidak dapat mengatakan TIDAK atas permintaan pihak lain. Dalam hal ini, TIDAK muncul sebelum YA.

Buku ini melengkapi sesuatu yang saya pikir sebagai suatu trilogi„ dimulai dengan buku Getting to Yes dan dilanjutkan Getting Past No. Kalau fokus buku Getting. to


Yes adalah pencapaian kesepakatan bagi kedua pihak, dan fokus Getting Past adalah pada pihak lawan, mengatasi keberatan mereka dan menolak kerja sama. Sementara itu, fokus buku ini adalah pada pihak Anda, belajar cara mengutarakan dan mempertahankan kepentingan Anda. Karena tahapan logisnya adalah dimulai dari pihak Anda, saya melihat bahwa buku ini lebih merupakan buku pendahulu dari dua buku sebelumnya, bukan buku lanjutan dari dua buku sebelumnya. Buku ini memberi dasar yang sangat diperlukan untuk memahami buku Getting to Yes dan Getting Past No. Masing-masing buku berdiri sendiri, namun saling melengkapi dan menyempurnakan.

Saya melihat buku ini bukan sekadar sebagai buku negosiasi tetapi sebagai buku keterampilan hidup, karena hidup adalah seperti tarian YA dan TIDAK. Setiap kali kita sedang tidak tidur, kita menggunakan TIDAK, apakah ke teman, anggota keluarga, bos, karyawan, atau rekan kerja kita atau ke diri sendiri. Saat dan cara kita mengatakan TIDAK menentukan kualitas hidup kita. Itu mungkin merupakan kata terpenting yang perlu kita pelajari agar kita dapat menggunakannya dengan sopan dan efektif.

Penjelasan tentang istilah yang digunakan: Saya menggunakan istilah "pihak lain" untuk merujuk orang lain atau pihak lawan yang menerima kata TIDAK. Saya juga menuliskan kata YA dan TIDAK dalam huruf besar untuk menandai makna dan hubungannya.

Dan sebuah penjelasan tentang budaya: Karena ungkapan TIDAK adalah satu proses universal, maka dapat dinyatakan dalam bentuk berbeda, tergantung pada budaya lokal. Masyarakat tertentu di Asia Timur, sebagai contoh, sangat menghindari penggunaan kata TIDAK, terutama dalam konteks hubungan yang erat. Tentu saja,


orang mengatakan TIDAK dalam masyarakat itu, tetapi dalam suatu cara yang implisit. Sebagai seorang sarjana antropologi„ saya sangat menghargai perbedaan budaya. Pada saat bersamaan, saya percaya bahwa prinsip dasar TIDAK yang positif diterapkan di budaya yang berbeda dan paham bahwa teknik tertentu untuk menerapkan prinsip adalah berbeda-beda antara budaya yang satu clan yang lain.

Perkenankan saya menyimpulkan dengan suatu catatan tentang perjalanan pembelajaran saya. Seperti banyak orang lain, saya mendapati bahwa adalah sulit untuk mengatakan TIDAK dalam situasi tertentu. Ketika saya ingat kembali, dalam kehidupan pribadi dan profesional saya, saya mengatakan YA walaupun saya mendapati bahwa diri saya sangat ingin mengatakan TIDAK. Terkadang, saya jatuh ke perangkap untuk menyerang atau menghindar walaupun akan jauh lebih menguntungkan bila menghadapi pihak lain dengan konflik yang sehat. Buku ini merefleksikan hal yang telah saya pelajari dalam hidup saya serta yang telah saya lihat dan alami selama 30 tahun bekerja dengan pemimpin dan manajer di seluruh dunia. Harapan terdalam saya adalah bahwa Anda, pembaca, akan belajar banyak hal dengan membaca buku tentang keterampilan penting untuk mengatakan TIDAK„ sama seperti yang saya dapatkan saat menulis buku ini.

***

Hai Kak, Share AnxietyIndo Ke Yang Lain Ya

Tidak ada komentar untuk "Motivasi Kekuatan Sebuah Kata-Kata - Sesi Kekuatan Pikiran (Power Of Mind)"

Berlangganan via Email